KritikSastra Puisi "Sajak Sebatang Lisong" Karya W.S. Rendra Sebelum kita mengenal lebih dalam mengenai karyanya, lebih baik kita mengetahui lebih dulu tentang penulisnya, yaitu W.S Rendra. Dia merupakan seorang pujangga muda yang dimiliki oleh Indonesia yang lahir di Surakarta, 07 November 1935 dan pada usianya yang ke 74 tahunan dia
Tipografipuisi yang berjudul sajak sebatang lisong ini adalah bentuk yang pada umumnya digunakan oleh penyair yaitu menggunakan rata kiri dan dimulai dengan huruf kecil semua, walaupun ditulis diawal kalimat. adalah " usaha menangkap makna dalam teks karya sastra di bentuk dari struktur yang bermakna dan di bangun dari sistem tanda
3 Melalui puisi "Sajak Sebatang Lisong", W.S. Rendra mengungkapkan kritikan tentang kehidupan nyata di masyarakat. Namun, dari bait-bait tersebut, W.S. Rendra juga mengungkapkan solusi berupa sikap/tindakan yang sebaiknya dilakukan. Bait-bait yang berisi solusi tersebut terdapat di bait ke
Puisiws rendra : Sajak Sebatang Lisong. menghisap sebatang lisong melihat Indonesia Raya mendengar 130 juta rakyat dan di langit dua tiga cukung mengangkang berak di atas kepala mereka. matahari terbit fajar tiba dan aku melihat delapan juta kanak kanak tanpa pendidikan. aku bertanya tetapi pertanyaan pertanyaanku membentur meja kekuasaan yang
Melaluipuisi "Sajak Sebatang Lisong", W.S. Rendra mengungkapkan kritikan tentang kehidupan nyata di masyarakat. Namun, dari bait-bait tersebut, W.S. Rendra juga mengungkapkan solusi berupa sikap/tindakan yang sebaiknya dilakukan. makna gratifikasi menjadi tidak netral lagi. Poin penting yang dapat dipahami dari pandangan sejumlah ahli
SajakSebatang Lisong menghisap sebatang lisong melihat Indonesia Raya mendengar 130 juta rakyat dan di langit dua tiga cukung mengangkang berak di atas kepala mereka matahari terbit fajar tiba dan aku melihat delapan juta kanak - kanak tanpa pendidikan aku bertanya