❤️‍🔥 Makna Puisi Sajak Sebatang Lisong

Dikutipdari buku Kumpulan Esai Apresiasi Puisi (2018) karya Indra Intisa, berikut isi puisi Sajak Sebatang Lisong, karya W.S Rendra: Menghisap sebatang lisong melihat Indonesia Raya, mendengar 130 juta rakyat, dan di langit dua tiga cukong mengangkang, berak di atas kepala mereka. Matahari terbit. Fajar tiba. Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan. Baca juga: Puisi Sapardi Djoko Damono. Aku bertanya, tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur meja kekuasaan yang macet,
Apresiasi Puisi Sajak Sebatang Lisong Karya Rendra Puisi yang berjudul sajak Sebatang Lisong ini merupakan puisi balada. Puisi balada ialah puisi yang bercerita tentang orang-orang perkasa atau tokoh pujaan atau orang yang menjadi pusat perhatian Herman, 2012 dalam Adzani, 2012. Puisi karya Rendra ini termasuk jenis puisi naratif dimana puisi ini mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Dari puisi inilah Rendra mengungkapkan perasaannya. Puisi yang ditulis pada tahun 1973 dan terangkum dalam buku Potret Pembangunan dalam Puisi ini merupakan puisi yang secara gamblang mengkritik sosial. Rendra tanpa sungkan-sungkan lagi mengkritik. Dengan bahasa sastra ia berbicara, dengan bahasa sastra pula ia mengkritik pemerintahan, hingga ia dianggap berbahaya oleh rezim. Tidak heran kalau Rendra sering dicekal dan bahkan ditahan oleh pemerintah pada masa itu. Berikut pemaknaan puisi yang berjudul Sajak Sebatang Lisong. Pada bait pertama penulis menceritakan bahwa orang-orang kaya yang digambarkan sebagai cukong begitu menikmati gaya hidup yang mewah yang digambarkan dengan menghisap sebatang lisong. Sementara itu, jutaan rakyat menjerit meratapi kehidupannya sama sekali tidak mereka hiraukan. Bait kedua, penyair secara lantang menyuarakan nasib jutaan anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan di masa itu. Padahal negara sudah merdeka dan pendidikan merupakan hak setiap anak. Hal ini digambarkan dengan //matahari terbit/ fajar tiba. Pada bait ketiga, penyair secara tegas ingin memprotes tentang keadaan yang terjadi di Indonesia, namun keinginan tersebut sia-sia, karena ia sebagai rakyat tidak diberikan hak untuk menyaurakan pendapatnya/mengutarakan isi hatinya. Hal ini digambarlkan dengan pertanyaan-pertanyaannya yang membentur meja kekuasaan yag macet. Selanjutnya penyair juga menyindir dunia pendidikan khususnya guru. Dalam puisi penyair tidak secara langsung menyebut guru karena konteks guru sudah menghilang dari birokrat yang harus disebut pendidik lembah pena, 2011. Pada bait keempat, penyair menyuarakan kembali nasib anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan. Padahal anak adalah aset suatu bangsa, namun keadaannya pada masa itu malah tidak diperhatikan. Hal ini akan membuat hancurnya masa depan bangsa karena anak yang merupakan pewaris bangsa tidak diberikan bekal pendidikan yang cukup sehingga mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengelolanya. Jangankan mengelola/mengatur bangsa, mengatur dirinya saja mereka belum tentu bisa karena masa depan yang sangat suram. Hal ini sesuai dengan potongan bait berikut // tanpa dangau persinggahan/ tanpa ada bayangan ujungnya. Bait kelima, penyair kembali lagi menyindir para penguasa negeri yaitu orang-orang kaya yang diistilahkan dengan cukong. Mereka tidak mempedulikan kegagalan pendidikan yang terjadi di negerinya. Banyak sarjana menjadi pengangguran, berpeluh di jalan raya. Bahkan mereka juga tidak mempedulikan keadaan ekonomi bangsanya yang digambarkan penyair dengan melihat wanita bunting antri uang pensiun. Bait keenam dan ketujuh, penyair menggambarkan bahwa teknokrat hanya bisa mencela tanpa bertindak apa-apa. Teknokrat yang berarti cendekia yang berkiprah dalam pemerintahan, sama halnya dengan cukong. Penyair menggambarkan bahwa teknokrat ditempatkan di langit. Mereka jauh dari ingar-bingar persoalan kehidupan nyata. Bangsa Indonesia sendiri yang salah karena mereka malas, tidak mau dibangun dan tidak mau menyesuaikan dengan teknologi asing. Pada bait kedelapan mengisahkan bahwa di zaman yang modern, gedung-gedung bertingkat bahkan pencakar langit sangat mudah dijumpai. Namun, itu semua hanya milik cukong-cukong dan masyarakat yang di bawah, tetaplah di bawah. Mereka tidak punya daya, bahkan untuk menyuarakan pendapatnya saja mereka tidak bisa. Karena masyarkat tidak diberi kebebasan untuk berpendapat. Hal ini membuat masyarakat menjadi putus asa dan mereka memilih tidur saja daripada mendapat celaka. Bait kesembilan penyair mengkritik para sastrawan dan teman-teman seperjuangannya. Ia merasa kecewa terhadap para sastrawan yang hanya terbius oleh sajak-sajak romantis yang dibuatnya. Padahal sebagai seorang intelektual dengan bahasa sebagai sarana perjuangan sosial, sastrawan seharusnya ikut andil menjadi motor penggerak.

SAJAKSEBATANG LISONG [2] OLEH: W.S RENDRA Menghisap sebatang lisong melihat Indonesia Raya mendengar 130 juta rakyat dan di langit dua tiga cukong mengangkang berak di atas kepala mereka Matahari terbit fajar tiba dan aku melihat delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan Aku bertanya tetapi pertanyaan-pertanyaanku

\n\n \n makna puisi sajak sebatang lisong
Puisiitu berjudul "Sajak Sebatang Lisong" karya si merak, W.S. Rendra. Puisi yang dibacakan tanggal 19 Agustus 1977 di ITB ini bercerita tentang keadaan negara yang karut marut. Bahasanya nyleneh tetapi membius kita untuk mengangguk-angguk setuju. Selain ulung menulis, kita tahu bahwa Rendra juga begitu apik membacakan puisi.
Berikutpemaknaan puisi yang berjudul Sajak Sebatang Lisong. Pada bait pertama penulis menceritakan bahwa orang-orang kaya yang digambarkan sebagai cukong begitu menikmati gaya hidup yang mewah yang digambarkan dengan menghisap sebatang lisong. Sementara itu, jutaan rakyat menjerit meratapi kehidupannya sama sekali tidak mereka hiraukan.
Contohlainnya misalnya puisi "Sajak Sebatang Lisong" karya WS Rendra. Dalam KBBI, Lisong berarti :" rokok yg tembakaunya dicampur dng kemenyan dan kelembak". Judul dalam puisi ini dapat berarti bahwa Rendra . Menyamakan sajaknya ini seperti lisong, yaitu sesuatu yang murah harganya. Coba simak sepenggal kalimat dalam sajak ini:
KritikSastra Puisi "Sajak Sebatang Lisong" Karya W.S. Rendra Sebelum kita mengenal lebih dalam mengenai karyanya, lebih baik kita mengetahui lebih dulu tentang penulisnya, yaitu W.S Rendra. Dia merupakan seorang pujangga muda yang dimiliki oleh Indonesia yang lahir di Surakarta, 07 November 1935 dan pada usianya yang ke 74 tahunan dia
Tipografipuisi yang berjudul sajak sebatang lisong ini adalah bentuk yang pada umumnya digunakan oleh penyair yaitu menggunakan rata kiri dan dimulai dengan huruf kecil semua, walaupun ditulis diawal kalimat. adalah " usaha menangkap makna dalam teks karya sastra di bentuk dari struktur yang bermakna dan di bangun dari sistem tanda 3 Melalui puisi "Sajak Sebatang Lisong", W.S. Rendra mengungkapkan kritikan tentang kehidupan nyata di masyarakat. Namun, dari bait-bait tersebut, W.S. Rendra juga mengungkapkan solusi berupa sikap/tindakan yang sebaiknya dilakukan. Bait-bait yang berisi solusi tersebut terdapat di bait ke
Puisiws rendra : Sajak Sebatang Lisong. menghisap sebatang lisong melihat Indonesia Raya mendengar 130 juta rakyat dan di langit dua tiga cukung mengangkang berak di atas kepala mereka. matahari terbit fajar tiba dan aku melihat delapan juta kanak kanak tanpa pendidikan. aku bertanya tetapi pertanyaan pertanyaanku membentur meja kekuasaan yang

Melaluipuisi "Sajak Sebatang Lisong", W.S. Rendra mengungkapkan kritikan tentang kehidupan nyata di masyarakat. Namun, dari bait-bait tersebut, W.S. Rendra juga mengungkapkan solusi berupa sikap/tindakan yang sebaiknya dilakukan. makna gratifikasi menjadi tidak netral lagi. Poin penting yang dapat dipahami dari pandangan sejumlah ahli

SajakSebatang Lisong menghisap sebatang lisong melihat Indonesia Raya mendengar 130 juta rakyat dan di langit dua tiga cukung mengangkang berak di atas kepala mereka matahari terbit fajar tiba dan aku melihat delapan juta kanak - kanak tanpa pendidikan aku bertanya
Darisekian bait puisi Ws Rendra yang berjudul Sajak Anak Muda ini, terdapat suasana-suasana penyair yang penuh pemberontakan dan kritik terhadap situasi dan kondisi negara. Khususnya generasi mudanya. Berikut ini beberapa suasana yang terdapat dalam puisi Sajak Anak Muda beserta Larik yang Mendukung Suasana.
Bahkanuntuk melihar Rendra membaca puisi orang harus membeli tiket pertunjukan yang tidak murah . Mendengarkan Rendra Baca Puisi ^Sajak Sebatang Lisong _ di Kampus ITB pada 1972 misalnya, betapa hidup kata-kata yang diucapkan penyair ini. Walaupun puisi itu dibawakan lebih dari tiga dasawarsa, makna puisi tersebut masih kontekstual pada zaman PotretPembangunan dalam Puisi. SAJAK SEBATANG LISONG. Oleh : W.S. Rendra. Menghisap sebatang lisong. melihat Indonesia Raya, mendengar 130 juta rakyat, dan di langit. dua tiga cukong mengangkang, berak di atas kepala mereka. Matahari terbit. Fajar tiba. Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak. tanpa pendidikan. Aku bertanya, tetapi pertanyaan .